Minggu, 20 November 2011

TRAGEDI SIMPANG KKA

Posted by Rais 03.05, under | 3 comments

KRONOLOGI TRAGEDI BERDARAH SIMPANG KKA
Posted by RAIS AL GUFRAN

Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. Karenanya, saban tahun—meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi—warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKA memperingatinya.



Sekedar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau sebelas tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memecah telinga siapa saja yang pernah mendengar. Saat itu, harga peluru tentara begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergelatak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian seperti dikejar air tsunami, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.



Saat tragedi itu, korban luka-luka tak terhitung. Hanya data yang dikumpulkan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) Aceh Utara menyebutkan 115 orang mengalami luka parah, sementara 40 orang lainnya meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada 6 orang masih sangat kanak-kanak, termasuk Saddam Husein (7 tahun) menjadi korban kebuasan aparat negara.

Sementara data yang dikeluarkan Koalisi NGO HAM Aceh, menyebutkan sekitar 46 orangmeninggal (dua orang meninggal ketika menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh), sebanyak 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam insiden
tersebut.



Meskipun banyak pihak melupakan peristiwa itu, tidak bagi para korban. Jamaluddin, misalnya, sampai sekarang masih terkenang dengan tragedi paling kejam dalam hidupnya. Jamal, kelahiran Sawang, Aceh Utara mengisahkan, bahwa saat peristiwa itu terjadi, dirinya melihat banyak sekali korban tembakan yang rubuh. Jamal juga mendengar jeritan tangis dari para ibu dan bapak yang melihat warga tertembak.

Jamal sendiri mengaku, saat tragedi itu, tubuh-tubuh warga yang kena tembakan jatuh menindihnya. Dengan sisa tenaga yang ada, mayat-mayat diambil dan diletakkan di tempat yang layak. Jamal mengaku, tak tahu harus berkata apa saat itu. Jamal, sendiri luput dari maut.Jamal berharap Pemerintah Aceh tidak melupakan peristiwa itu. Kalau memang ini pelanggaran HAM, pelakunya harus diadili. Karena itulah keadilan bagi korban.


Kronologi Peristiwa

Sebelum Kejadian

Jumat malam, 30 April 1999, Sekitar jam 20.30 WIB masyarakat Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, mengadakan rapat akbar untuk memperingati 1 Muharram yang bertepatan dengan 30 April 1999. Oleh pihak keamanan, peringatan 1 Muharram yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat Islam di manapun di seluruh Propinsi Aceh, disebut sebagai ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).



Lalu muncul kabar bahwa seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berpangkat Sersan, bernama Adityawarman, hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah (Keterangan Kapuspen TNI, nama anggotanya yang hilang itu adalah Sersan Kepala Edi, dari Den Rudal 001/Pulo Rungkom, Aceh Utara).

Tidak jelas apakah anggota TNI itu benar hilang atau terjadi berbagai kemungkinan lainnya, tetapi yang pasti tidak satupun dari penduduk yang mengetahui keberadaannya. Dan yang pasti lagi, malam itu tidak terjadi apa-apa yang berarti di Desa Cot Murong.

Sabtu malam, 1 Mei 1999

Sebuah truk militer dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berputar-putar dikawasan Desa Cot Murong dengan aktivitas yang tidak jelas, tetapi hari itu tida
k terjadi apa-apa.
Minggu pagi, 2 Mei 1999



Mulai pukul 05.00 WIB pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom mulai melakukan operasi di kawasan Desa Cot Murong. Pada minggu pagi itu masyarakat sedang melakukan persiapan pelaksanaan kenduri memberi makan untuk anak-anak yatim sehubungan dengan pringatan 1 Muharram yang dilaksanakan sejak Jumat malam sebelumnya. Masyarakat memotong 4 ekor lembu di halaman Masjid Al-Abror, Cot Murong.

Pada saaat itulah, sekitar jam 11.00 WIB datang pasukan Den Rudal ke tempat kenduri dan dengan dalih menanyakan anggotanya yang hilang sehari sebelumnya mulai memuli warga setempat. Dilaporkan, waktu itu ada tidak kurang 20 orang yang dianiaya oleh anggota TNI tersebut. Praktek kekerasan dan penganiayaan dengan bertindak kasar, menampar dan memukuli hingga cedera, telah terjadi.
Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".

Menyadari kondisi yang mulai mencemaskan tersebut kemudian para warga dari Desa Murong dan desa-desa tentangga seperti Desa Lancang Barat, Kecamatan Nisam dan Paloh Lada, yang terdiri dari pemuda, wanita, orang tua serta anak-anak berkumpul untuk mencegah kemungkinan penganiayaan lebih lanjut, apalagi aparat militer telah mengeluarkan ancaman yang cukup menakutkan.

Tiba-tiba, pada pukul 13.00 WIB datang lagi pasukan tambahan yang terdiri dari 7 truk anggota TNI ke lokasi kenduri. Melihat itu, masyarakat yang telah berkumpul dari berbagai penjuru Kecamatan mencoba menghadang.

Tepat pukul 14.00 WIB terjadi negosiasi (membuat perjanjian) antara masyarakat Kecamatan Dewantara dengan Danramil Kecamatan Dewantara yang diketahui pihak MUI Kecamatan, yang isinya: "TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong dengan alasan apapun".

Saat Kejadian

Minggu malam, 2 Mei 1999. Masyarakat desa mengetahui adanya penyusupan anggota TNI antara jam 20.00 WIB sampai dinihari ke Desa Cot Murong dan Desa Lancang Barat. Bahkan penduduk pun mengetahui adanya sebuah boat yang diperkirakan milik militer berupaya untuk melakukan pendaratan di pantai Desa Cot Murong, namun batal karena terlanjur diketahui oleh warga setempat. Sampai waktu itu tidak terjadi apa-apa, namun kecemasan penduduk semakin memuncak, dan sejak saat itu mereka semua mulai berkumpul sampai Senin pagi.




Senin pagi, 3 mei 1999.

Tepat pada pukul 09.00 WIB, 4 truk pasukan TNI datang lagi memasuki Desa Lancang Barat, desa tentangga Cot Murong. Massa rakyat yang berkumpul merasa cemas dan mulai mempersenjatai diri dengan kayu dan parang (tanpa senjata api). Lalu datang Camat Dewantara, Drs. Marzuki Amin ke Simpang KKA dan mulai melakukan negosiasi dengan aparat TNI. Aparat berkeras dan negosiasi mentok. Camat tetap berpegang kepada perjanjian terdahulu yang telah disepakati oleh masyarakat dengan Koramil Dewantara yang intinya pihak TNI tidak lagi melakukan kegiatan operasi di daerah mereka. Negosiasi itu beralangsung cukup lama. Waktu sudaah menunjukkan hampir jam 12.00 WIB.

Untuk menunjukkan kesungguhan hati dan permohonan yang sangat besar agar pasukan segera ditarik dan pihak TNI menghormati perjanjian yang telah dibuat, Camat Marzuki Amin sempat mencopot tanda jabatan dari dadanya. Tetapi malah sang Camat kemudian dipukuli oleh tentara.

Pada saat itu tiba-tiba satu truk milik TNI bergerak dan sambil berlalu, dari atas truk para tentara melempari batu ke arah masyarakat, dan masyarakat yang terpancing balas melempari batu ke atas truk. Pada saat yang hampir bersamaan juga seorang anggota tentara berlari kearah semak-semak dan masyarakat yang terpancing mengejarnya. Tiba-tiba dari arah semak itu terdengar satu letusan senjata. Letusan senjata itulah yang seperti sebuah "komando" disusul oleh rentetan serangan. Pembantaian segera dimulai. Tepat jam 12.30 WIB.
Saat Kejadian.


Pukul 12.30 WIB, Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI. Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam moment-moment penting yang terjadi baik dengan foto atau video. Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah-satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya.



Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang dibagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.

Selain melakukan tembakan kearah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.

Ketika melakukan tembakan para anggota tentara itu juga berteriak-teriak. Kalimat yang paling sering diucapkan adalah "Akan kubunuh semua orang Aceh". Dalam aksi pembantaian tersebut, 45 jiwa Tewas di tempat, 156 lainnya Luka-luka kebanyakan karena luka tembak, dan 10 diantaranya Hilang sampai saat ini tidak tahu keberadaannya. Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka benar-benar melakukan pembantaian seperti sebuah pesta.

Sumber: Koalisi NGO HAM Aceh - Atjeh Cyber Warrior
READ MORE >> TRAGEDI SIMPANG KKA

TRAGEDI COT PULOT

Posted by Rais 02.57, under | No comments

Tragedi Cot Pulot Jeumpa Februari 1955
Posted by RAIS AL GUFRAN pasi ileubeu

SAYA punya keyakinan, orang-orang tua di Cot Pulot Jeumpa Aceh Besar tidak bisa melupakan tragedi Cot Pulot, Jeumpa dan Leupeung yang terjadi 56 tahun. Tragedi terbesar pada masa orde lama ini diawali dari bentakan militer Indonesia yang menyeret warga berdiri berjejer di pantai.

Dalam amuk kemarahan yang membara-bara, prajurit TNI mengiring anak-anak, pemuda dan orangtua ke pantai Samudera Indonesia. Mereka diperintahkan menghadap lautan lepas. Beberapa detik kemudian, tanpa ampun, moncong senjata otomatis memuntahkan ratusan peluru. Puluhan tubuh pria tewas membasahi pasir. Dalam sejarah kelam, fakta ini dikenal dengan peristiwa Cot Pulot Jeumpa di Gampông Cot Pulot dan Gampông Jeumpa Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar pada Februari 1955.

Insiden yang meluluhlantakan nilai-nilai kemanusiaan diawali dari sehari sebelumnya sebuah truk militer membawa berdrum-drum minyak dan 16 tentara melintasi Cot Pulot. Mendekat jembatan Krueng Raba Leupung, tentara Darul Islam yang dipimpin oleh Pawang Leman menghadang. Pawang Leman adalah mantan camat setempat yang pada zaman revolusi Indonesia berpangkat mayor.

Tembakan beruntun menyebabkan truk terbakar. Semua prajurit Batalyon B anak buah Kolonel Simbolon dan anggota Batalyon 142 dari Sumatera Barat anak buah Mayor Sjuib berguguran dijilat kobaran api. Tentara Darul Islam menyebut pasukan Republik Indonesia dengan Tentara Pancasila. Esoknya, satu peleton (berkekuatan 20-40) Tentara Republik merazia pelaku. Razia dari rumah ke rumah tidak membawa hasil. Kekesalan tentara sudah di ubun-ubun. Anak-anak hingga kakek yang ditemukan di jalan atau tempat bekerja digiring ke pantai.

Penembakan pertama pada Sabtu, 26 Februari 1955 yang dilakukan oleh Batalyon 142 terhadap 25 petani di Cot Pulot. Penembakan kedua pada Senin, 28 Februari 1955 oleh Batalyon 142 terhadap 64 nelayan di Jeumpa. Penembakan ketiga pada tanggal 4 Maret 1955 di Kruengkala. Akibatnya 99 jiwa meregang nyawa dengan rincian di Cot Jeumpa 25 jiwa, di Pulot Leupung 64 dan Kruengkala 10 jiwa. Usia termuda yang wafat yakni 11 tahun dan paling tua berusia 100 tahun. Pembantaian ini sebagai balas dendam terhadap rekan-rekannya yang ditembak oleh tentara Darul Islam. Indonesia menutup rapat-rapat pembantai warga sipil yang pertama dilakukan di Aceh oleh negara.

Koran Peristiwa

Suasana kekalutan itu semakin gempar dengan pemberitaan surat kabar Peristiwa pada awal Maret 1955. Isi koran yang terbit di Kutaradja ini dikutip oleh berbagai media ibu kota di Jakarta dan internasional. Peristiwa memuatnya dengan judul enam kolom di halaman pertama. Disebutkan pada tanggal 26 Februari 1955 kira-kria jam 12 siang WSu (Waktu Sumatera) sepasukan alat-alat negara menangkap seluruh lelaki penduduk Cot Jeumpa yang didapati di rumah. Mereka dikumpulkan di pinggir laut. Lalu tanpa periksa, seluruh pria itu ditembak hingga semua rebah bermandikan darah.

Peristiwa mewartakan pada tanggal 28 Februari 1955, kira-kira jam 12 siang WSu, orang berpakain seragam menembak mati 64 warga Leupung. Mereka ditangkap di rumah, sedang melempar jala, memancing dan lain-lain. Kemudian dikumpulkan di pinggir laut. Peristiwa memberitakan, mayat-mayat yang bergelimpangan itu dikuburkan dalam dua lubang besar. Peristiwa memuat nama korban lengkap dengan umur dan tempat tinggal

Tentu militer Indonesia menolak publikasi Peristiwa. Komandan Tentara Teritorium I Bukit Barisan Pada tanggal 10 Maret 1955 memberi penjelasan kejadian sebagai berikut. Pada tanggal 22 Februari 1955 sepasukan tentara yang ditempatkan di Lhong berangkat pagi-pagi jam 06.30 WSu, 16 tentara dari Peleton 32 Batalyon 142 menuju Kompi II di Lhok Nga untuk mengambil bahan makanan dan bensin. Pada sorenya satu satu truk membawa perbekalan dan bensin menuju Lhoong.

Ibarat membungkus bangkai, pasti tercium bau. Pemimpin Redaksi Peristiwa Achmad Chatib Aly (sering disingkat menjadi Acha) melakukan investigasi yang luar biasa. Koran yang terbit di Jalan Merduati No. 98 Kutaradja menjadi tumpuan warga untuk mengetahui hal-hal yang coba disamar-samarkan itu. Kala itu, militer Indonesia memblokir jalan ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Acha tidak kehilangan akal dengan menyewa boat nelayan. Tugas jurnalistik ditunaikan dengan baik. Seminggu kemudian, Peristiwa edisi 3 Maret 1955 memuat laporan bernas di halaman satu dengan judul “Bandjir Darah di Tanah Rentjong”. Peristiwa edisi 10 Maret 1955 mencantumkan daftar warga yang ditembak oleh Batalyon 142, Peleton 32 dengan memakai senjata Bren, 2 mobil, 2 jeep, 2 truk.

Tak ayal, berita ini dikutip oleh beberapa harian yang terbit di Jakarta seperti Indonesia Raya. kemudian dikutip oleh media terbitan luar negeri sepeti New York Times, Washington Post yang terbit di Amerika Serikat atau Asahi Simbun yang terbit di Jepang. Warga Aceh di Jakarta melancarkan protes keras kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo agar mengirim misi menyelidiki kasus itu.

Berdasarkan pemberitaan Peristiwa yang dirintis pada awal tahun 1954, Hasan Tiro yang tinggal di New York Amerika Serikat mengetahui sepak terjang Indonesia. Diplomat cerdas ini menilai eksekusi massa itu adalah genosida. Hasan Tiro yang dicabut paspor diplomatik Indonesia pada tahun 1954 semakin yakin, Aceh yang diibaratkan sebagai bagian dari puluhan kamar yang berteduh dalam rumah bernama Indonesia sudah waktunya dipertanyakan.

Berhasilkah Hasan Tiro menempatkan kasus Cot Jeumpa, Pulot dan Leupeung dalam agenda PBB? Beberapa surat kabar terbitan Medan Sumatera Utara seperti Lembaga, Tangkas, dan Warta Berita menulis kasus yang dilapor oleh Hasan Tiro tertera dalam agenda PBB. “Bila kemudian tak dibicarakan di PBB itu lain soal. Kejadian di Aceh itu sudah jadi perhatian internasional,” tulis Zakaria M. Passe di Majalah Tempo edisi 24 Oktober 1987.

Kekerasan oleh negara pada tahun 1955 terulang lagi di Aceh pada era reformasi seperti pembantaian di Beutong Ateueh, Simpang KKA, Bumi Flora dan lain-lain. Pembantaian demi pembantaian menjadi pelajaran agar hal-hal ini mesti dicegah dengan membangun konstruksi komunikasi. Tidak ada manusia yang bisa mencegah gempa bumi dan tsunami. Namun sebaliknya, masyarakat bisa mencegah konflik bersenjata.

Pada dimensi lain, peran media seperti yang dilakukan oleh Pak Acha melalui koran Peristiwa dalam merawat ingatan generasi muda masa kini dan depan tetap mendapat porsi tersendiri. Korban kekerasan tidak bisa melupakan masa-masa pahit yang dialaminya. Korban kekerasan berpeluang untuk memaafkan masa lalu sambil mencoba berdamai dengan masa kini untuk merajut masa depan. Sedangkan bagi masyarakat, masa lalu adalah cermin untuk tidak mengulangi kesalahan lalu. Jika masa lalu diibaratkan seperti spion roda empat yang berukuran kecil dan diletakan di sisi kiri dan kanan serta dilirik sejenak saja, maka kaca depan kendaraan adalah masa kini dan masa depan yang mesti ditatap serius.
Penulis :
Murizal Hamzah
Penulis adalah editor Buku Biografi Wakapolri Jusuf Manggabarani, “Cahaya Bhayangkara”.
Sumber : SerambiNews
READ MORE >> TRAGEDI COT PULOT

MISTERI RUMOH GEUDOENG ,,BILI ARON

Posted by Rais 02.50, under | 1 comment

MENGUAK MISTERI RUMOH GEUDONG
Posted by rais al gufran

Diantara sederet kisah luka di Aceh, Rumoh Geudong (Pos Sattis, -Kopassus) memang memiliki sebuah kisah dan sejarah tersendiri bagi rakyat Aceh. Ditengah isu politik pada masa akan dicabutnya Daerah Operasi Militer (DOM) pada tanggal 7 Agustus 1999 saat jendral Wiranto menjabat, semakin terbuka peluang atas pengungkapan berbagi kasus kejahatan HAM yang terjadi di Aceh.

Rumoh Geudong terletak di desa Billie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie, atau berjarak 125 kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Kabupaten Pidie ini menempati posisi Lintang Utara 4,39-4,60 derajat dan Bujur Timur 95,75-96,20 derajat.

Menurut alkisah dari penuturan ahli waris Rumoh Geudong ini dibangun pada tahun 1818 oleh Ampon Raja Lamkuta, putera seorang hulubalang yang tinggal di Rumoh Raya sekitar 200 meter dari Rumoh Geudong. Pada masa penjajahan oleh Belanda, rumah tersebut sering digunakan sebagai tempat pengatur strategi perang yang diprakarsai oleh Raja Lamkuta bersama rekan-rekan perjuangannya.

Namun, Raja Lamkuta akhirnya tertembak dan syahid saat digelarkan aski kepung yang dilakukan oleh tentara marsose di Pulo Syahi, Keumala berkat adanya informasi yang di dapat dari informan (cuak, dalam bahasa Aceh). Jasadnya Raja Lamkuta dikuburkan dipemakaman raja-raja di Desa Aron yang tidak jauh dari Rumoh Geudong.

Tidak berhenti begitu saja perjuangan Raja Lamkuta, adiknya Teuku Cut Ahmad akhirnya mengambil alih lagi ketika baru berusia 15 tahun untuk memimpin perjuangan terhadap Belanda, namun beliau juga syahid ditembak oleh Belanda yang mengepung Rumoh Geudong.

Pada masa-masa berikutnya, Rumoh Geudong ditempati secara berturut-turut oleh Teuku Keujren Rahman, Teuku Keujren Husein, Teuku Keujren Gade. Selanjutnya pada masa Jepang masuk dan menjajah Indonesia hingga merdeka, rumah tersebut ditempati oleh Teuku Raja Umar (Keujren Umar) anak dari Teuku Keujren Husein. Setelah Teuku Raja Umar meninggal, rumah ini ditempati anaknya Teuku Muhammad.

Pengurusan Rumoh Geudong sekaran ini dipercayakan kepada Cut Maidawati anaknya dari Teuku A. Rahman. Teuku A. Rahman mewarisi rumah tersebut berdasarkan musyawarah keluarga, dari ayahnya yang bernama Teuku Ahmad alias Ampon Muda yang merupakan anak Teuku Keujren Gade.

Laksana Peti Mati

Sebelum Rumoh Geudong digunakan sebagai pos militer (Pos Sattis) sejak April 1990. Masih menurut ahli waris, penempatan sejumlah personal aparat militer pada saat itu hanya sementara, tanpa sepengetahuan pemiliknya. Sebenarnya pemilik Rumoh Geudong merasa keberatan, namun para anggota Kopassus yang terlanjur menjadikan rumah tersebut menjadi pos militer sekaligus “rumah tahanan” dan tidak mau pindah lagi.
Baru pada tahun 1996, dibuatlah sebuah surat pinjam pakai rumah yang ditandatangani Muspika setempa, tetapi sayang tanpa ada tanda tangan pemilik rumah. Rumah ini juga terkenal angker karena dihuni oleh makhlus halus, sehingga para anggota aparat yang bertempat disitu sering diganggu.

Memang ikhwal adanya sebuah peti mati yang berisikan kain kafan berlumuran darah di Rumoh Geudong cukup membuat mistis para penghuninya. Dari peti mati inilah sering keluar makhlus halus yang berwujud harimau. Menurut penuturan dari pemilik rumah ini, kain kafan yang berlumuran darah dalam peti tersebut merupakan milik nenek dari hulubalang pemilik Rumoh Geudong yang meninggal dunia karena diperlakukan secara kejam oleh Belanda.

Ada gangguan yang memang dirasakan oleh para aparat di tempat itu, misalnya aparat yang beragama non muslim yang tidur di rumah atas (rumah Aceh), secara tiba-tiba ‘diturunkan’ ke rumah bawah. Pada tahun 1992, sempat terjadi juga penembakan yang dilakukan oleh seorang anggota Kopassus yang menembak mati temannya sendiri karena ia bermimpi didatangi harimau yang menyuruhnya menembak temannya itu.

Karena beberapa peristiwa ini sering mengganggu, aparat militer hanya bertahan beberapa bulan saja di Rumoh Geudong di Desa Bilie Aron dan kemudian terpaksa pindah ke Desa Amud. Namun, karena alasan kurang strategis untuk sebuah pos operasi militer, anggota Kopassus memindahkan lagi posnya dari Amud ke Rumoh Geudong dengan meminta bantuan seorang ulama terkenal, Abu Kuta Krueng untuk memindahkan makhlus halus yang sering menghantui mereka yang berada di dalam peti mati melalui sebuah acara ritual kenduri (hajatan kecil).

Sebelum Ditarik Kopassus Masih Menculik

Selasa 18 agustus 1998, Dua anggota Kopassus masih mencoba menculik keluarga salah seorang korban di Desa Nibong, Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara, kendati pasukannya sudah akan ditarik dari Pidie ke Lhokseumawe. Korban penculikan itu adalah keluarga Mohammad Yunus Ahmad, korban penculikan, 28 Maret 1998 lalu yang hingga kini belum kembali. Rumah Yunus di Desa Nibong, didatangi dua anggota Koppasus yang mengendarai mobil Toyota Kijang bernomor polisi BK 1655 LR.

Kopassus semula hendak mengangkut istri Yunus, Ny Zaubaidah Cut (37 tahun). Zaubaidah kebetulan tak ada di rumah. Karena kecewa, Kopassus yang dari Pos Sattis Bilie Aron itu, mengambil ibu Ny. Zaubidah dan seorang anak Yunus yang masih berusia 15 tahun. Karena belum berhasil membawa Ny Zaubaidah, dua anggota Kopassus itu memarkir mobilnya di simpang jalan Blang Malu menunggu kedatangan Ny Zaubaidah.

Penduduk yang mengetahui penculikan ibu, anak dan rencana penculikan Ny Zubaidah, menunggu Ny Zaubaidah di persimpangan lainnya dan mencegat perempuan itu pulang ke rumah. Penduduk kemudian membawa Ny Zaubaidah ke Sub Den-POM, Sigli. Kepala Sub Detasemen Polisi Militer (POM) Sigli Lettu CPM Hartoyo, menelepon Koramil Mutiara agar mobil Kijang Kopassus itu ditahan.

Dua anggota Koramil Mutiara dengan sepeda motor menahan dua anggota Kopassus itu. Petugas Koramil itu kemudian menggiring mobil Kijang Kopassus hingga ke Markas Koramil Mutiara. Namun, sebelum petugas POM datang ke Koramil Mutiara, kedua angota Kopassus sudah kabur. "Saya akan cari mereka itu. Saya belum tahu namanya. Bisa jadi mereka oknum, atau cuak-cuak itu," kata Hartoyo.***

Tak Ada Lagi Jerit Kesakitan Di Rumoh Geudong

Warga sekitar Rumoh Geudong (rumah gedung), markas Kopassus yang dipakai sebagai tempat penahanan dan penyiksaan terhadap masyarakat Aceh, tidak lagi mendengar teriakan kesakitan dan menyaksikan penyiksaan yang dilakukan Kopassus. Perasaan lega masyarakat itu muncul seiring ditariknya pasukan ABRI dari seluruh wilayah Aceh.

"Kami sudah tak sanggup lagi mendengar dan menyaksikan orang-orang disiksa di Rumoh Geudong itu. Kalau malam, tidur kami sering terganggu karena mendengar jeritan-jeritan orang yang disiksa. Atau mendengar lagu-lagu dari tape yang diputar keras-keras waktu penyiksaan," kata seorang warga Desa Aron, tempat marksa Kopassus itu berada. Kepergian Kopassus dari Aron disambut gembira masyarakat sekitar. Namun begitu, pemilik Rumoh Geudong mengeluh. Kopassus meninggalkan tagihan jutaan rupiah untuk rekening telepon.

"Mereka suruh kami menagih pembayarannya sama bupati," kata pemilik rumah itu. Selama operasi Jaring Merah dilancarkan di wilayah itu, Pemda Pidie sudah cukup banyak mengeluarkan dana untuk biaya operasional Kopassus. Dana yang sebenarnya milik rakyat Pidie itu dipakai Kopassus untuk membayar rekening telepon, listrik, sewa rumah, kendaraan, dan sebagainya. "Tragisnya dana milik rakyat itu dipakai Kopassus untuk membunuh, menyiksa dan memperkosa rakyat," ujar seorang warga. ***


Berakhirnya Tanda Luka

Pos Sattis atau lebih dikenal dengan Rumoh Geudong menjadi ‘neraka’ bagi masyrakat Pidie. Meledaknya pengungkapan kejahatan kemanusiaan di rumah yang mempunyai luas tanah 150 x 80 meter yang tidak jauh dari jalan raya Banda Aceh - Medan sungguh telah mengores luka berat. Tidak hanya masyarakat di luar Aceh, bahkan bagi masyarakat Aceh pun kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh aparat negara (Pa’i, -istilah TNI/Polri bagi rakyat Aceh) telah melampaui akal sehat mereka.

Menurut keterangan masyarakat setempat, sejak Maret 1998 sampai DOM dicabut pada tanggal 7 Agustus 1998 (sekitar lima bulan, sebelum rumah itu dibakar massa), Rumoh Geudong telah dijadikan tempat tahanan sekitar lebih dari 50 orang laki-laki dan perempuan yang dituduh terlibat dalam Gerakan Pengacau Keamana-Aceh Merdeka (GPK-AM). Namun, dari penuturan seorang korban, ketika korban yang sempat ditahan di Pos Sattis selama tiga bulan, dia telah menyaksikan 78 orang dibawa ke pos dan mengalami penyiksaan-penyiksaan. Jadi, bisa diperkirakan berapa banyak masyarakat Aceh yang telah disiksa atau pun dieksekusi di tempat ini jika kembali dihitung mulai tahun 1990 sejak pertama kali Pos Sattis digunakan sampai tahun 1998.

Saat Tim Komnas HAM melakukan penyisiran dan penyelidikan ke Rumoh Geudong, tim juga menemukan berbagai barang bukti seperti kabel-kabel listrik, balok kayu berukuran 70 cm yang sebagian telah remuk serta bercak-bercak darah pada dinding-dinding rumah.

Selain itu, tim juga melakukan penyisiran dengan penggalian tanah di halaman Rumoh Geudong yang diduga dijadikan tempat sebagai tempat kuburan massal. Setelah dilakukan penggalian, tim hanya menemukan tulang jari, tangan, rambut kepala dan tulang kaki serta serpihan-serpihan tulang lainnya dari kerangka manusia.

Bagi masyarakat Aceh, kebencian terhadap Rumoh Geudong menjadikan mereka sangat mudah disulut provokasi oknum-oknum yang punya kepentingan untuk memusnahkan bukti kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang pernah dterjadi di rumah itu.

Tepat tanggal 12 Agustus 1998, sekitar 30 menit setelah Tim Komnas HAM yang dipimpin oleh Baharudin Lopa meninggalkan lokasi rumah tersebut dalam rangka mencari bukti-bukti kebenaran, akhirnya dibakar oleh massa. Tentu hal ini sangat disayangkan, karena telah hilangnya bukti penanda sejarah atau monumen historis adanya kekejaman dan kejahatan kemanusiaan yang telah terjadi di tempat ini.

Namun, lain lagi menurut ahli waris Rumoh Geudong. Pembakaran rumah tersebut ternyata sejak tahun 1945, pernah dicoba baka oleh sekelompok orang, lagi-lagi hasil itu gagal karena tiba-tiba muncul tiga ekor harimau dari rumah dan menyerang para pelakunya. Dan entah kenapa setelah dijadikan sebagai Pos Sattis oleh aparat, Rumoh Geudong malah justru dapat dibakar.

Menurut penuturan terakhir dari ahli waris, Teuku Djakfar Ahmad: “Mungkin Rumoh Geudong itu sendiri yang ‘minta dibakar’, karena tak ingin sejarahnya ternoda. Kalau dibikin monumen, mungkin orang hanya ingat Rumoh Geudong sebagai tempat pembantaian. Sedangkan sejarah perjuangannnya bisa-bisa dilupakan orang.”

Inilah kisah tragis Rumoh Geudong, pada masa Belanda dan Jepang, rumah besar ini justru menjadi pusat perjuangan membela agama dan merebut kemerdekaan Indonesia. Semoga kisah ini menjadi sebuah sejarah yang tidak pernah dilupakan oleh rakyat Aceh, kenangan yang telah membekas menjadi satu pelajaran yang bisa diambil untuk anak cucu nantinya
.
READ MORE >> MISTERI RUMOH GEUDOENG ,,BILI ARON

SANG ORATOR ULUNG ATJEH

Posted by Rais 02.40, under | No comments

Posted by Sang Penunggu Istana Daruddunia On 11:17


“Kabar duka adalah berita terbaik” Begitu ucapan tokoh antagonis dalam film James Bond memicu perang antara China dengan Inggris. Kalau diperhatikan zaman ini, kalimat dalam film itu ada benarnya. Namun tidak semua kabar duka itu menjadi berita terbaik. Kadang berita duka menjadi berita buruk. Karena duka itu tak pernah bisa tersenyum.



Ada seorang anak Aceh kini sedang meringkuk di kurungan Cipinang. Namanya T Ismuhadi Jafar. Kami tak bisa mengeluarkannya dari penjara ataupun memindahkan ia ke Aceh. Hanya dengan menurunkan jeritan hatinya dari balik jeruji baja, kami harap, sedikit membantunya karena ada yang dapt merasakan penderitaannya. Ia telah berbagi.

Selama ini kita membaca tentangnya di berbagai media cetak. Kini kita baca lagi di halaman ini.

Kisah ini adalah kirimannya melalui surat elektronik ke ruang redaksi Harian Aceh. Dia mengaku, warisan darah pejuang telah mengantarnya ke Penjara. Ia turunan ke 6 Teuku Nyak Hamzah di Peusangan dari garis ayah, dan cucu Tgk. Hasan Ibrahim yang lebih dikenal dengan Nyak Hasan Kodak di Krueng Baroe dari garis ibu.

Ia lahir pada 29 Januari 1969 di Kr. Baroe. Usia 4 tahun, ia dibawa orangtuanya merantau ke Timbangan Gajah Dua. 3 tahun kemudian, ia pindah ke Lampahan Aceh Tengah. Pada masa-masa Operasi Gaya Baru, bunyi sepatu lars tentara hampir setiap malam mengganggu tidurnya. Kerap sedang bermain di belakang rumah di pagi hari, Ismuhadi kecil menyaksikan orang-orang hasil tangkapan operasi yang diseret, tubuh mereka penuh luka dan darah bekas tembakan yang belum mongering.

Ismuhadi kecil bertanya pada ibunda, kenapa mereka diperlakukan seperti itu, apa salah mereka. Dengan sigap sang bunda menutup mulut Ismuhadi dengan jari telunjuk. “Syu­uut...jangan tanya begitu nak, didengar tentara bahaya, kita bisa ditangkap.” Engga puas dengan jawaban ibunda, Ismuhadi kecil menguping pembicaraan org-orang dewasa di sekitar rumah.

Ternyata hasil buruan tentara tadi pagi, adalah pengikut setia Tgk. Ilyas Leubee. Ismuhadi telah merekam dalam ingatannya, begitu banyak menyaksikan ibu-ibu menangis karena kehilangan suami atau anak laki-lakinya, dibawa tentara lalu tak pernah kembali.

Th 1985, ketika masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Matang Geulumpang Dua, ia berkawan karib dengan Iswadi Jamil. Ia pun terinspirasi dengan perjuangan rakyat Aceh. Lalu bersama Iswadi Jamil, ia ikut mendaftar diri pada perekrutan tentara AM (saat itu bkn GAM) yang akan dikirim untuk belajar ke Libya. Malam pemberangkatan, Ismuhadi dan Iswadi telah kabur dari rumah dan sembunyi di belakang Mesjid Balee Kiro, Peusangan. Namun malang, meski telah melobi Tgk.Nasruddin bin Ahmed, tetap saja Ismuhadi dan Iswadi gagal berangkat karena faktor usia yang terlalu muda pada masa itu. Sebagai ganti ke Libya, ia sekolah lagi dan diterima di SMA Negeri 1 Cot Gapue Bireuen.

Walau sudah menyibukkan diri dengan sekolah, Ismuhadi tak mampu mengobati kecewaan karena gagal belajar ke Libya. 2 tahun di SMA seraya terus mempelajari beberapa tulisan DR.Tgk.Hasan di Tiro tentang perjuangan rakyat Aceh. DR.Tgk.Hasan di Tiro adalah satu-satunya tokoh yg mengilhami Ismuhadi tentang pentingnya harga diri sebuah bangsa, “dignity”. Menurut Ismuhadi, sampai saat ini, belum ada tokoh Aceh yang mampu menggantikan kecerdasan Wali Nanggro dalam memperjuangkan Aceh. Ia berterus terang, terinspirasi dengan beberapa tulisan Wali.Ia terinspirasi terlalu dalam, sehingga membuatnya frustrasi dan membolos sekolah. Daripada membaca buku pelajaran di sekolah, Ismuhadi lebih memilih membaca tulisan Wali Nanggroe. Ismuhadi ke Keumala Pidie. Ia berbulan-bulan tak masuk sekolah, akhirnya Ismuhadi tak naik kelas. Gagal belajar ke Libya dan gagal di sekolah lalu ismuhadi pergi menjauh dari Aceh.

Lalu, ia pindah sekolah ke SMA Depok Jawa Barat. Namun Tuhan menentukan lain; Sambil melanjutkan sekolah di SMA Depok, Ismuhadi bertemu dengan T. Taqwallah alias Tgk Wan Botak dari Idi, yang baru saja tiba di Pulau Jawa. Ia pulang dari Libya melalui Malaysia lalu ke Singkawang dan Tanjung Priok. Tgk.Wan baru saja menyelesaikan pendidikannya di Libya. Nostalgia dengan perjuangan rakyat Aceh termemory kembali, cinta lama bersemi kembali.

Syahdan, tahun 1990, masa ganas-ganasnya DOM di Aceh, banyak pemuda Aceh yang lari menyelamatkan diri keluar Aceh, di antaranya, serombongan pemuda Nisam yang dipimpin M.Yusuf. Mereka tak mendapatkan tempat yang selayaknya di mata masyarakat Aceh jabotabek. Umumnya, penduduk Aceh di perantauan itu takut dengan efek DOM di Aceh.

Ismuhadi yang tingkat sosialnya tinggi pun tergerak hati untuk memperlakukan pengungsi dari Nisam Aceh Utara itu sebagaimana layaknya manusia. Tak cukup dengan itu, di Pasar Lama Jalan Dewi Sartika Depok, Ismuhadi menempel pengumuman “Bagi pengungsi Aceh yang butuh tempat berteduh, silahkan tinggal di rumah kontrakan Ismuhadi”.

Umumnya para pengungsi Aceh itu tak punya skill formal, tak mungkin dapat pekerjaan yang layak di Depok. Untuk biaya hidup sehari-hari, kami berdagang sayur kacang panjang di Pasar Kemiri Depok. Setiap malam kami naik kereta api ke Bogor untuk belanja sayur lalu kami jual di Pasar Depok. Setelah uang terkumpul dan cukup untuk tiket ke Malaysia, berangkatlah mereka merantau ke Malaysia. Sementara itu Ismuhadi melanjutkan hidupnya di Depok. Hingga kini Ismuhadi tak pernah bertemu lagi dg mereka. Apakah mereka masih hidup atau ditangkap aparat, Ismuhadi tak pernah tahu kabarnya.

Berbekal ijazah SMA, pada tahun 1991 Ismuhadi diterima bekerja di sebuah perusahaan Swedia yang bermarkas di JL. Fatmawati Jaksel, sebagai tenaga pemasaran. Memulai karir dari sales door to door lalu menjadi supervisor. Setelah merasa ilmu pemasarannya cukup, Ismuhadi keluar dari tempatnya bekerja untuk memulai wiraswasta. Ia pun pindah ke Pejaten Timur Jakarta Selatan.

Ismuhadi memulai usaha tambak udang di Desa Pakis Jaya, Karawang Jabar. Ia pun berjoin dengan pengusaha Jakarta, untuk membuka perusahaan bahan kimia anti rayap merk wazary dar Jepang di Roxy Mas Jakarta Pusat. Saat itu, kehidupannya terputus dengan perjuangan Aceh. Kontak dengan kawan lama pun tak ada sama sekali. Ia terus berkonsentrasi mencari uang hingga 1994.

Tahun 1994, Ismuhadi pulang ke Aceh dan menikah dengan Aznani, teman kelasnya pada waktu SMA di Cot Gapue, yang ternyata masih keluarga dekatnya. Bahkan, pada masa ibunda Ismuhadi sekolah dulu, tinggalnya di rumah kakek Aznani. Setelah berbulan madu, Ismuhadi memboyong Aznani ke Jakarta. Masa-masa awal berumah tangga, Ismuhadi mendapat cobaan berat, ditipu oleh rekan bisnis, dan Ismuhadi bangkrut.

Aznani mulai mengandung anak pertama, Ismuhadi tak punya cara lain untuk menyambung hidupnya. ,maka ia pun menjadi sopir President Taxi. Sebulan membawa taxi datanglah berkah dari Allah SWT yg tak akan dilupakan seumur hidupnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hari besejarah itu. Ismuhadi dapat penumpang warga negara Jepang yang kemudian menawarkan agar Ismuhadi ikut bekerja pada keluarga Jepang tsb.

Awalnya bertugas sebagai sopir pribadi boss di JICA. Ia merasa pengetahuannya terlalu sedikit, sehingga ia selalu merasa . untuk menghilangkan kebodohan itu, setiap malam pulang kerja Ismuhadi menyempatkan diri untuk belajar sampai tertidur. Usahanya itu amat berguna. 6 bulan jadi sopir, ia diangkat menjadi staff, tepat saat itu menjelang anak pertamanya lahir. Yang lebih menyenagkan lagi, Ismuhadi dikukuhkan menjadi anak angkat dari keluarga Tadashi Uchida.

Putra pertama Ismuhadi pun lahir, lalu ia mendapatkan kehormatan, anak Ismuhadi boleh memakai nama Tadashi, yang ditandatangi sertifikatnya oleh semua anggota keluarga bossnyayang berkebangsaan Jepang tersebut. Setahun bekerja, Ismuhadi diangkat menjadi sekretaris pribadi hingga masa tugas Mr.Tadashi Uchida berakhir di Jakarta dan kembali ke jepang.

Tahun 1999, awal Ismuhadi diundang oleh DR.Mukhtar Ansary untuk hadir pada acara rapat di Asrama Haji Pondok Gede Jawa Barat. Untuk menyikapi persoalan Aceh pada masa itu. Di sanalah tercetus ide mendirikan Forum Perjuangan dan Keadilan untuk Rakyat Aceh (FOPKRA).

Ismuhadi sebagai anggota biasa. Relasi bisnisnya yang bernama Fadloen Hasan Langsa, tinggal di Bendungan Hilir, menjadi ketua DPW DKI, dan Nurmasyitah Ali menarik Ismuhadi agar duduk sebagai ketua pengerahan massa DKI.

Debut pertama FOPKRA adalah mengkonsolidasikan kekuatan, membentuk plat form dan arah-arah perjuangan. Pada masa itu DPP FOPKRA dipimpin oleh Tgk.Salahuddin Alfatah, Tgk.Waisul Qarany dan Tgk.Muzakkir Samidan, juga ada Ismail Beurdan dan tokoh-tokoh berbobot lainnya. Lahirlah istighasah pertama di Mesjid Al-Azhar Kebayoran. Di sana Ismuhadi mulai kenal dengan beberapa tokoh masyarakat, di antaranya, Alm Jafar Sidik Hamzah, Ilyas HN, Teuku Amir Husen dll.

Melihat animo masyarakat Aceh Jabotabek yang sangat tinggi kepeduliannya terhadap saudara-saudaranya yang menderita di Aceh, membuat FOPKRA sebagai wadah penampung aspirasi masyarakat Aceh Jabotabek itu tumbuh ber­kembang sangat cepat. FOPKRA Tidak menyaingi Taman Iskandar Muda yang sudah sangat berpengalaman mengurusi masyarakat Aceh Jabotabek, namun FOPKRA hadir sebagai wadah penampung aspirasi yang tidak ada tempat dalam wadah Paguyuban Taman Iskardar Muda.

FOPKRA mendukung aksi-aksi mahasiswa Aceh yang sering berdemo ke DPRRI dan Istana Negara untuk menuntut perlakuan adil bagi Aceh.

Pertemuan mahasiswa di Aceh melahirkan SIRA, yg kemudian terkenal dengan aksi Referendum yang mampu menurunkan massa terbesar dalam sejarah Aceh. SIRA dikomandani oleh Muhammad Nazar dan Alm Tjut Nurasikin (tapol/napol Aceh yang meninggal di dalam penjara Lhoknga akibat terjangan ombak tsunami). Apa yang sedang terjadi di Aceh kemudian mengilhami Ismuhadi,

“Jika di Aceh yang serba susah dan terbatas serta terancam jiwanya, Muhammad Nazar dkk mampu menggelar aksi tuntutan referendum bagi Aceh, kenapa kita yang hidup enak dan aman di Jakarta tak berbuat seperti Nazar dkk di Aceh ?” Pertanyaan tersebut Ismuhadi lemparkan di hadapan beberapa tokoh masyarakat Aceh yang sedang berkumpul di salah satu kantor RW di Jalan Marga Satwa Pondok Labu. Gayung bersambut, ide Ismuhadi ditanggapi positif dan didukung penuh oleh Bpk Drs.Saleh Manaf.

November 1999, terbentuklah panitia aksi tuntutan referendum bagi Aceh ke DPR RI, Ismuhadi sebagai ketua umum panitia tsb. Berkat hubungan baik dengan Willy, seorang turunan Cina, pengusaha sukses Magelang, Ismuhadi diantar ke rumah Ir.Hatta Rajasa. Ismuhadi ingin memastikan bahwa pada hari H nanti, Amin Rais bersedia menerima utusan.

November 1999 tersebut merupakan aksi bersejarah bagi masyarakat Aceh Jabotabek. Aksi terbesar dalam sejarah perantauan masyarakat Aceh ke Pulau Jawa. Masyarakat Aceh berbondong-bondong dari Ujung Jawa Timur sampai ke Ujong Kulon Jawa Barat berkumpul ke DPR RI, menuntut pemerintah pusat agar menghentikan Operasi Militer di Aceh, mencabut DOM atau memberikan referendum bagi Aceh untuk memilih tetap bergabung dengan NKRI atau berpisah sebagai negara yang berdaulat.

Puluhan ribu masyarakat Aceh tumpah-ruah ke DPP RI. Perwakilan diterima oleh Amin Rais dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Selesai berorasi, masyarakat Aceh tersebut semuanya berjalan kaki dengan tertib dari Senayan ke Mesjid Istiqlal Jakarta dan bubar.

Sukses besar menggelar aksi damai tersebut bukan semata-mata karena Ismuhadi, itu berhasil berkat dukungan penuh dari GAM dan SIRA di Aceh. Taman Iskandar Muda Jabotabek, FORKA dan Lsm lainnya, Muhammad Nazar dkk. Yang terpenting adalah rasa solidaritas masyarakat Aceh di Pulau Jawa yang begitu tinggi kepada saudaranya yang menderita di Aceh. Perantau Aceh yang bertebaran seantero Pulau Jawa itu rela menutup toko dan bolos kerja maupun kuliah demi menunjukkan rasa solidernya. Itu saj yang perlu diingat.

Usai menggelar perhelatan besar aksi tuntutan referendum ke DPRRI, kembali ke agenda FOPKRA menuntut keadilan bagi korban DOM di Aceh, melindungi satu-satunya saksi hidup dalam tragedi pembantaian Tgk Bantaqiah dan murudnya. Selain itu, Ismuhadi disibukkan oleh kedatangan anggota2 GAM yang sedang tugas ke Jakarta maupun yg menyelamatkan diri dari kejaran aparat di Aceh.

Rumah dan bengkel serta pool bis Ismuhadi menjadi tempat penampungan sementara. Masa itu Ismuhadi sering dikunjungi oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh, di antaranya Alm.Tgk.Ishak Daud, Alm Tgk.Ismail Saputra, Sayed Mustafa Usab dll. Bahkan kemudian hari Ismuhadi mulai membatasi diri dalam menampung pelarian dari Aceh, kecuali mereka membawa surat dari panglima wilayahnya masing-masing di Aceh, seperti memo yang sering diterima dari Almarhum Bang Jack Kapolda Pasee. Atau setidaknya menerima pesan lewat Handphone dari Zakaria Saman alias Tgk.Karim alias Raja Tjut yang bermukim di Siam Thailand, pun dari Ustadz Ilyas Abed di Aceh, untuk memastikan orang-orang yang perlu dibantu di jakarta adalah benar-benar pejuang Aceh.

Ismuhadi juga mendapat undangan dari beberapa lembaga dunia, baik untuk hadir dalam seminar maupun pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Sipil di tengah konflik. Belajar hukum humaniter dan hukum perang yang mengatur cara berperang agar tidak mengorbankan anak-anak, perempuan dan penduduk sipil. Bahkan Ismuhadi mendapat kehormatan berkunjung ke Negeri Belanda bersama Salahuddin Alfatah dan Muhammad Nazar Sira untuk bertatap muka lansumg dg pimpinan GAM di negeri tersebut.

Dalam kesempatan itu Ismuhadi sempat membawa ratusan lembar photo kekejaman perang di Aceh, lalu menyerahkan kepada ‘Paduka Yang Mulia Tgk.Malek Mahmud al Haytar agar disampaikan kepada Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe DR.Tgk.Hasan M di Tiro. Sepulang dari Negeri Belanda, Ismuhadi menyempatkan diri menerbitkan buku berjudul “Mengapa Sumatera Menggugat” yang ditulis oleh Tgk.Yusra Habib Abdul Gani di Denmark. Dan setelahnya, bersama Almarhumah Tjut Nurasikin dan Sayed Mustafa Usab, Ismuhadi ke Singapura bertemu Tgk. Malek Mahmud Alhaytar.

Tahun 2000
Seluruh bisnis Ismuhadi dipercayakan pada orang-orang kepercaannya. Sementara itu, dia lebih banyak mencurahkan perhatian pada perjuangan Aceh. Sangking banyaknya orang-orang yang diurus, pernah suatu ketika isterinya mengeluh, tapi Ismuhadi tetap teguh pada pendirian dan tekadnya yang selalu berkat “semua ini tugas dari Allah SWT”, kemudian isterinya mengamini dan mendukung dari belakang. September 2000, Ismuhadi kedatangan tamu dari Malaysia, Tgk.Tahe Hasan atau lebh dikenal dengan nama Tgk.Raya Panyang (kini bekerja di kantor BRA Banda Aceh) yang harus ditampung di rumah Ismuhadi di Jakarta.

Tgk. Raya Panyang pernah menampung Ismuhadi di Kajang Malaysia, pada waktu transit di Kuala Lumpur sebelum terbang ke Negeri Belanda. Atas rasa balas jasa itulah Ismuhadi merasa berkewajiban mengurus dengan sebaik-baiknya Tgk.Raya Panyang selama berada di Jakarta.

24 Sept 2000, kebetulan hari itu Ismuhadi menangani sendiri penjualan sebuah mobil ke pembeli di jalan Margonda Depok, Ismuhadi ditelpon oleh kepala bengkel, memberitahukan bahwa seluruh karyawan dan tamu bengkel ditangkap polisi dibawa ke Polsek Jagakarsa.

Sempat panik dan bertanya kenapa mereka ditangkap polisi, ada salah apa pada polisi, tapi tak ada yang tahu. Serta merta, Ismuhadi menyerahkan mobil ke pembeli di Bank BCA Margonda, lalu shalat dzuhur. Rasa tanggung jawabnya terhadap orang-orang yang menumpang di bengkel, terutama Tgk Raya Panyang, membuat tekad Ismuhadi bulat untuk membela mereka. Dengan sigap, ia menyetop taxi dan minta diantarkan ke Polsek. Sesampai di polsek, Ismuhadi malah diusir sama petugas piket gerbang.

Salah seorang polisi bernama Joko yang sering memperbaiki mobil di bengkel Ismuhadi lalu menunjuk-nunjuk, dengan isyarat, kawan Ismuhadi yang barusan ditangkap, kini di atas, di lantai dua sedang diperiksa. Saat itu baru saja Sayed Mustafa dan Tgk Raya Panyang dibebaskan dan diijinkan meninggalkan polsek. Hati Ismuhadi lega karena tak terjadi apa-apa pada Sayed Mustafa dan Tgk Raya Panyang. Namun tetap Ismuhadi belum meninggalkan polsek karena seluruh karyawan dan beberapa orang tamu bengkel masih diperiksa, bahkan sampai menjelang magrib, lalu dibawa ke Polda Metro Jaya.

Siang terik dan mengerikan itu, Ismuhadi menyusul ke Polda Metro Jaya. Di sana ia menunggu orang yang ditampungnya selesai diperiksa satu persatu. 28 orang lansung dimasukkan ke tahanan. Ia masih menunggu. Namun bukan kawannya dilepaskan, malah pada jam 02.00, Ismuhadi diperiksa seputar peristiwa meledaknya bom di gedung BEJ. Ismuhadi selesai diperiksa pada jam 04.15. Lalu disuruh pulang.

Kombes Harr Montolalu memanggil AKP Eko; “Eko, Si Tengku ini suruh balik kanan aja.” “Siap ‘ndan,” jawab AKP Eko. Lalu ia menoleh Ismuhadi. “Tengku, ayo saya antar pulang.” baru dua langkah keluar dari pintu ruangan pemeriksaan, tiba-tiba Kombes Harry Montolalu memanggil lagi dan bertanya; “Tengku kenal dengan Iwan Setiawan alias Husen Jen?” “Ga kenal pak,” jawab Ismuhadi. Tiba2 seorang serse membawa Iwan Setiawan ke hadapan Ismuhadi. “Ini orangnya, kenal enggak kamu sama dia, Teungku?” Tanya Kombes.

“Enggak kenal Pak,” jawab Ismuhadi, yang berani bersumpah demi Allah, ia belum kenal siapa Husen Jen. Lalu Husen Jen menyela, “Bohong pak, dia boss saya. Dia yang menyuruh saya meledakkan bom di BEJ. Serta merta beberapa polisi berpakaian preman memukul Ismuhadi dan terjerembab ke bawah kolong meja lalu diborgol dan dibuatkan surat perintah penahanan, lalu diisolasi dari yang lain2nya.

Awal Mala Petaka Bagi Ismuhadi dan Keluarga
Selama tujuh hari tujuh malam Ismuhadi diisolasi. Siang dan malam diinterogasi, ditendang, digantung kepala ke bawah bahkan distroom dengan kabel listrik, ditelanjangi bahkan kemaluan disundut dg api rokok, disiksa untuk mendapatkan pengakuan. Ismuhadi tidak tahu apa yang harus diakuinya karena memang tidak tahu apa tentang bom BEJ.

Namun karena tidak kuat menahan siksaan, akhirnya Ismuhadi memohon kepada aparat yang menyiksanya agar dia jangan disiksa lagi. “Tolong ditembak saja saya, agar mati, karena tidak kuat menahan siksaan,” pinta Ismuhadi. Setelah Ismuhadi memohon agar ditembak, aparat penyiksanya mulai berhenti menyiksa, lalu menyerahkan Ismuhadi ke polisi penyidik yang baik dan sopan. Ia pun dipertemukan dengan pengacara Hendardi dari PBHI.

Ke Penjara Cipinang
Setelah 4 bulan dikurung dalam sel pengap di Polda Metro Jaya, lalu Ismuhadi dipindahkan ke penjara Cipinang. Saat di sana, ia mulai sedikit lega karena dapat dikunjungi oleh keluarga dan kawan-kawan maupun tokoh masyarakat Aceh di Jakarta.

Kekayaannya Raib
Namun yang paling menyedihkan baginya adalah, yang dulu Ismuhadi cari dengan keringatdemi isteri dan anak-anaknya, lenyap begitu saja. Empat belas unit stok mobil bekas untuk dijual beli raib diangkut polisi tanpa surat tanda terima barang sitaan. Spare part, olie dan ban mobil beserta peralatan bengkel senilai 700 juta lebih telah hilang tanpa ada saksi siapa yangmengambilnya. Tiga rekening bank di BCA Pondok Indah, Danamon Pondok Indah dan BNI Pasar Minggu diblokir polisi.

Yg tertinggal hanya bis kota yang kebetulan dibawa pulang dan diselamatkan oleh sopir masing-masing bis. Rumahnya pun disegel polisi. Isteri dan anak-anaknya mengungsi ke rumah Nur Masyitah Ali. Sejak itu, isteri dan anak Ismuhadi berpindah-pindah tempat. Tadashi Mulana tidak berani sekolah karena malu pada teman-temannya. Cahya Keumala masih dalam gendongan.

Hidup dari Belas Kasihan Penjenguk
Selama menghadapi masa sidang, Ismuhadi hidup di penjara. Di kurungan terali baja itu ia menggantungkan diri pada belas kasihan orang-orang yang membesuknya. Ia sangat beryukur, saat itu banyak ia terima sumbangan dari teman-temannya di Aceh yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dia ikhlas setelah tahu seluruh harta yang dikumpulkan bertahun-tahun lenyap dalam sekejap mata. Ia sadar, saat lahir ke dunia tidak membawa apa pun jua.

Ismuhadi yakin, semua yang dimiliki di dunia bahkan dirinya sendiri pun milik Allah SWT. Ismuhadi ikhlas. Fokus Ismuhadi adalah bagaimana menghadapi persidangan.

Divonis 20 Tahun Penjara
Jaksa mendakwanya sebagai panglima GAM Wilayah Jabotabek, dan menuntut Ismuhadi dengan hukuman mati. Ismuhadi telah maksimal membela diri namun hakim bersikukuh menjatuhkan vonis 20 tahun penjara.

Jaksa Endang Rachwan, SH melakukan konferensi pers stelah menuntut Ismuhadi. Jaksa itu bilang, sangat pantas Ismuhadi dituntut hukuman mati, karena Ismuhadi berjuang untuk memerdekakan Aceh.

Putusan dua puluh tahun penjara dinilai tak adil oleh Ismuhadi, karena keputusan itu bukan proses pengadilan, namun proses penghukuman. Merasa diperlakukan tak adil, Ismuhadi banding ke Pengadilan Tinggi DKI. Putusan pengadilan tingkat tinggi menguatkan putusan pengadilan negeri, artinya ia tetap dihukum 20 tahun penjara. Ismuhadi tak terima dihukum 20 tahun, lalu ia mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

Hukuman Bertambah Jadi Seumur Hidup
Setelah 2 tahun menunggu putusan mahkamah agung, Ismuhadi dikejutkan dengan putusan vonis bahwa Ismuhadi dinaikkan hukuman menjadi hukuman seumur hidup, sama dengan hukuman yang diterima Irwan Tiro dan Ibrahim Hasan Sawang. Mengahrap keringanan malah beban bertambah.

Menjalani hukuman seumur hidup tidaklah mudah bagi Ismuhadi, namun ia tak putus asa dengan statusnya. Dia berperinsip, hidup tak boleh selamanya bergantung pada orang lain, apalagi menjadi parasit. Isteri Ismuhadi mengurus anak-anak mereka, mengurus usaha bis yang masih tersisa. Isteri Ismuhadi sangat setia. Ismuhadi berpesan kepada isterinya agar jangan memikirkan tentang biaya hidup Ismuhadi di penjara, tapi besarkanlah usaha bis kota yg tersisa itu utk biaya hidup Aznani dan anak mereka yang lain.

Merintis dalam Penjara
Dengan modal seadanya Ismuhadi memulai usaha di dalam penjara. Usaha pertama yang digelutinya adalah menanam sayur di lahan-lahan kosong dan beternak ayam yang lalu dijual pada sesama penghuni penjara. Setelah beberapa waktu berlalu, untuk mengisi hari-hari di penjara, Ismuhadi memulai usaha warung yang lalu tumbuh berkembang hingga menjadi 5 warung di dalam penjara Cipinang. Bahkan ia mulai mampu menata kembali usaha-usahanya di luar penjara yang selama ini telah terlantar.

Contohnya, kebun kelapa sawit milik Ismuhadi di Aceh Timur yang pernah diancam Pemda Aceh Timur, bila tak diurus akan dibagi-bagikan kepada masyarakat, kini telah terurus kembali. Ismuhadi selalu bersyukur memiliki isteri yang cantik dan setia serta anak-anak yang cerdas. Bagi Ismuhadi, itu semua rahmat Allah yang tak terhingga baginya. Meski terpenjara, setidaknya Ismuhadi merasa lebih beruntung dari 2 kawannya, Irwan Tiro dan Ibrahi Sawang.

Ibrahim telah lama ditinggal oleh isterinya yang kawin dengan orang lain setelah tahu Ibrahim Sawang dihukum seumur hidup dan tak mampu membiayai keluarganya. Ketidakmampuannya membiayai keluarga karena Ibrahim sawang 5 tahun dirantai di dalam penjara Cirebon Jawa Barat, ia tak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga yang menimpa Irwan Tiro yang dihukum seumur hidup dalam kasus serupa Ismuhadi. Keluarga isteri Irwan Tiro menggugat ke pengadilan agama agar dijatuhkan talak terhadap Irwan Tiro yang sedang menjalani hukuman seumur hidup di penjara.

Kenangan dengan Irwandi Yusuf
Meski pahit dan getir sekali rasanya hidup di penjara, Ismuhadi selalu menuliskan kenangan manisnya di penjara bersama beberapa orang yang kini telah menjadi tokoh penting di Aceh. Misalnya pada saat penangkapan Irwandi Yusuf di Jakarta. Tentang Irwandi Yusuf, Ismuhadi punya kenangan.

‘Berkat bantuan perwira polisi Teuku Saladin Kanit Kamneg Polda Metro saat itu (kini Kapolres Bireuen) Ismuhadi bisa bicara lansung dengan atasan T.Saladin yaitu Kombes Tito Karnivian;

“Pak Tito, Saya Ismuhadi di penjara Cipinang. Irwandi yang Bapak tangkap itu saudara saya, tolong Bapak perlakukan secara manusiawi, jangan disiksa, jangan ditembak mati, kalau mau dihukum, silahkan hukum berapa lapis pasal pun tak apa-apa.” Pinta Ismuhadi.

“Baik Tengku, akan saya jaga dia,” jawab Pak Tito. Pak Tito ini adalah seorang polisi berpendidikan tinggi dan cerdas menurut Ismuhadi, dia respek kepada Ismuhadi meski Ismuhadi seorang narapidana. Kenangan paling manis bagi Ismuhadi adalah saat Tgk Nasruddin bin Ahmed dikirim ke Cipinang lalu sekamar dengannya. Ismuhadi sangat kagum pada Tgk Nasruddin bin Ahmed. Menurut Ismuhadi, dia orang cerdas dan taät beribadah.

Suatu hari ada bom meledak di Atrium Senen. Anehnya, Ismuhadi lagi yang dituduh. Isteri Ismuhadi ditahan di Polda. Dalam penjara itu, Ismuhadi gelisah mondar-mandir setelah melihat di televisi isterinya ditangkap. Tgk Nasruddin bin Ahmed berpesan; “Jangan panik, wudhu dan shalat sunnah mengadu sama Allah SWT.” Maka Ismuhadi menuruti sarannya. Setelah itu, isteri Ismuhadi dibebaskan dari Polda Metro Jaya

Nasehat Tgk Nasruddin bin Ahmed pun sangat berguna bagi Ismuhadi ketika kasus Ismuhadi, Ibrahim, Irwan dibawa ke Swedia oleh Pemerintahan Megawati yang dianggap sebagai bukti bahwa GAM telah melakukan tindakan terorrisme di Wilayah Republik Indonesia.

Diminta Jebloskan Petinggi GAM di Swedia ke penjara
Tgk Nasruddin bin Ahmed dan Ustadz Ilyas Abed tahu persis apa jawaban Ismuhadi dan temannya. Pertama sekali tim dari Mabes Polri datang mengambil lagi berita acara pemeriksaan terhadap Ismuhadi denagn tuduhan melanggar pasal 106, 107, dan 108 KUHP.

Lalu, sebulan kemudian jaksa dari Swedia mewawancarai Ismuhadi dan temannya. Hasilnya, jaksa Swedia kembali ke negerinya lalu menuntut bebas dan memberi ganti rugi kepada para pimpinan tinggi GAM di Swedia.

“Kalau ditanya kenal dengan wali, siapa orang Aceh yang tak kenal wali, tapi wali tak kenal kami,” jawab Ismuhadi. Lalu tim pembela PDI berkunjung ke Cipinang merayu agar Ismuhadi menandatangani permohonan grasi pada Presiden Megawati, dijamin akan dibebaskan.

“Kalo presiden mau membebaskan seseorang dia punya hak perogratif, tak perlu saya menandatangani surat permohonan grasi (mengaku salah dan minta ampunan) pada presiden,” tegas Ismuhadi.

Tim PDI itu berjanji, Ismuhadi lansung bebas setelah tandatangan grasi. Ismuhadi bertanya; “Untuk apa surat permonan grasi harus saya tandatangani ?”

“Untuk bukti agar pimpinan GAM di Swedia dapat dihukum.”

“Oh, no way, mereka yang di Swedia tak pernah perintahkan kami untuk melakukan teror,” tegas Ismuhadi, yang tak mampu mengorbankan orang lain agar dirinya terbebas dari penjara. Terlebih para petinggi GAM di Swedia adalah tokoh-tokoh yang dikaguminya. Bahkan matipun takkan membuat Ismuhadi berkhinat, apalagi petinggi GAM tak pernah mengeluarkan perintah agar meneror Jakarta. Menurut dokrin GAM yang diketahui Ismuhadi, di masa perang, musuh pejuang Aceh yang ada di Aceh.

Penghujung tahun 2004, gempa menguncang Aceh, dan gelombang tsunami memporak-porandakan sebagian bumi Iskandar Muda. Ismuhadi terkesima menyaksikan di televisi, lidahnya kelu tak mampu berkata apa-apa, hanya air mata deras mengalir di pipi. Di balik jeruji besi itu, Ismuhadi tak mampu berbuat apa-apa untuk menolong saudaranya yang tengah ditimpa musibah nun jauh di kampung halaman, hanya mampu berdo’a dan menangis hingga matanya bengkak.

Galang Dana untuk Korban Tsunami
Teman-teman sesama penghuni penjara berdatangan berkumpul di depan kamar Ismuhadi. Khusu bagi yang beragama Islam dan berasal dari Aceh, menggelar takdziah dan membaca yassin di kamar Ismuhadi. Seminggu kemudian, Ismuhadi menerima sumbangan uang dan pakaian dari keluarga-keluarga sesama penghuni penjara, lalu Lapas Cipinang secara resmi mengadakan acara resmi ‘Malam Renungan Aceh.

Ismuhadi membaca puisi tentang tsunami di Aceh, lalu hasil dari sumbangan berupa uang dan pakaian itu, Ismuhadi dan Lapas Cipinang menyerahkan sumbangan itu ke Stasiun Televisi Lativi untuk disalurkan ke Aceh. Begitu besar kepedulian semua napi di Cipinang terhadap saudara-saudara kita yang tengah ditimpa musibah di Aceh.

Berbicara dengan Cut Nur Asikin Saat Dihantam Gelombang
Detik detik terjadinya gempa pukul 09, Ismuhadi sedang berbicara dengan Cut Nurasikin melalui HP, karena kebetulan pagi itu Cut Nur Asikin berulang tahun.

Tiba-tiba, terdengar teriakan Kak Cut Nurasikin, “Allahu Akbar... Allahu Akbar...” Lalu terputus dan tak pernah tersambung lagi hingga detik ini. Namun dalam benak hati dan fikiran Ismuhadi, Cut Nur Asikin masih hidup. Ismuhadi tak pernah percaya Cut Nur Asikin telah tiada untuk selamanya, telah kembali ke alam keabadian sepanjang masa.

Iasmuhadi menegaskan, jangan pernah berkata di hadapan ismuhadi Cut Nurasikin telah tiada untuk selama lamanya, Ismuhadi bisa marah. Bahkan ketika Po Cut Endang, anak bungsu Kak Cut Nurasikin yang kini melanjutkan pendidikan ke Mesir bertandang ke Cipinang, yang pertama ditanya Ismuhadi padanya, “Apa kabar mamak pocut?”

Pocut endang terdiam bisu di hadapan Ismuhadi lalu mengeluarkan sebuah pemberian terbungkus kado. Ismuhadi membawa bungkusan itu ke kamarnya, lalu dibukanya pelan-pelan, isi kado tersebut sebuah buku berjudul “LA TAHZAN”. Begitu pula ketika Ismuhadi menelpon Cut Rita, anak tertua dari almh Cut Nurasikin, Ismuhadi selalu bilang, “Mamakmu masih hidup, tolong cari dia, minta tolong untuk bebaskan Ismuhadi.”

Cut Rita selalu meyakinkan; “Teungku Is, mamak sudah ga ada, kita harus ikhlas.” Lalu Ismuhadi menjawab, “Benar juga ya mamak sudah ga ada, seandainya masih ada mamak hari ini pasti Teungku Is sudah dibebaskan dari penjara,” ucap Ismuhadi pada anak tertua Cut Nurasikin itu.

Ismuhadi sangat menghormati dan mengagumi sosok Tjut Nurasikin, bagi Ismuhadi Tjut Nurasikin adalah jelmaan Tjut Nyak Dhien yang begitu gigih berjuang demi rakyat Aceh.

Ismuhadi berharap, semoga akan lahir kembali Tjut Nyak Dhien-Tjut Nyak Dhien junior yang ikhlas berjuang demi bangsanya, meskipun kini arena pertempuran telah berubah, bukan masanya lagi di zaman moderen ini berperang melawan penindasan dengan senapan dan senjata tajam, karena tak ada lagi musuh, tak ada lagi penjajahan dalam bentuk dan arti yang harfiah. Lebih lagi pasca penandatangan nota kesepahaman bersama MoU Helsinki antara pemerintah RI dan GAM.

“Sebelum Ajal, Izinkan Saya Menjabat Tangan Wali Nanggroe”
Kiriman antara Jeruji Baja, Tahun 2005. Setelah 5 tahun ­menja­lani hidup di penjara, jauh dari anak-anak dan isteri tercinta, Ismuhadi merasakan derita nan dalam, tak terlukis kata dan suara. Ia sadar kini, tidak ada tempat yang lebih buruk di dunia selain penjara. Harus hidup serba terbatas dan mesti bisa membawa diri di antara 4000 penghuni penjara dengan berbagai macam latar belakang dan kasus yang terkadang diwarnai kerusuhan antar geng.

Setiap waktu hatinya meronta dan menjerit, “Andaikan mungkin, sehari saja rasanya, jangan sampai mengalami hidup di penjara.” Namun ia menenagkan diri dengan mengenag penderitaan rakyat Aceh ketika DOM dan Darurat Militer, yang menurutnya, derita Aceh masa itu jauh lebih mengerikan, tidaklah berbanding dengan penderitaan yang dialaminya.

Dengan mengingat ingat penderitaan rakyat Aceh itulah, Ismuhadi ikhlas dan tabah menjalani kehidupan di penjara, bahkan masih mampu menyisihkan sedikit demi sedikit uang, lalu mengirimkan ke penjara lain seperti, Cirebon, Malang, dll. Kiriman itu untuk meringankan beban tapol/napol Aceh yang ditahan di sana.

Angin Salju Helsinki
2005 awal Agustus datang kabar gembira dari Ustad Muzakkir Hamid yang bermukim di Swedia mengabarkan akan ada perundingan dengan RI. sampai dimulainya perundingan itu, Ismuhadi masih terus mendapat kabar setiap malam tentang materi-materi yang akan disepakati bersama, termasuk point tentang amnesty. Seingat Ismuhadi, ada 4 point yang ada dalam draft perundingan namun tidak ada dalam MoU Helsinki yang ditandatangani 15 Agustus. Entah kenapa, wallahu ‘alam. Ismuhadi tak tahu kemana 4 point yang ada dalam draft tsb.

Menyaksikan penandatanganan MoU Helsinki dari televisi membuat Ismuhadi bersujud syukur. Kebasanpun terbayang di depan mata. Tak pernah Ismuhadi bayangkan akan mendekam di penjara hingga kini, apalagi satu persatu rekan Ismuhadi telah dipulangkan ke Aceh karena mendapatkan amnesty. Setelah ribuan tapol/napol GAM dipulangkan ke Aceh, lalu Ismuhadi mengontak Meuntroe Malik Mahmud di Swedia, Meuntroe minta data penghuni penjara yang belum menerima amnesty. Lalu Faisal Ridha dari SIRA dan isterinya bahu-membahu mengirimkan data mereka, Meuntroe berharap agar Ismuhadi dan kawan-kawan bersabar karena akan segera diurus. Setelah rombongan juru runding yang ditahan bebas dan berangkat ke Swedia menemui Wali Nanggroe.

Dijenguk Petinggi GAM dan Janji Dibebaskan
Saat pulang dari Swedia, perunding itu lansung ke Jakarta dan menyempatkan diri mengunjungi Ismuhadi. Yang berkunjung saat itu adalah Tgk.Nasruddin bin Ahmed, Almarhum Tgk.Muhammad Usman Lampoeh Awe, didampingi Muhammad Nazar dari SIRA. Ismuhadi san penjenguk itu bertemu sejenak, melepas meusyen. Pun di bulan Ramadhan itu mereka berpesan pada Ismuhadi agar sabar karena sebentar lagi Ismuhadi akan dibebaskan, lalu mereka pulang ke Aceh, meninggalkan Ismuhadi dan kawan-kawan dalam harapan besar. Kebebasan.

Setahun Janji Tak Ditepati
Tahun 2006, Ismuhadi dan kawan-kawan belum kunjung dibebaskan. Padahal jelas-jelas dalam dakwaan maupun tuntutan jaksa, Ismuhadi disebut sebagai Panglima GAM Wilayah Jabotabek. Dengan segala upaya Ismuhadi mencari tau apa gerangan yang terjadi di luar penjara hingga ia dan kawan-kawan belum dibebaskan. Ismuhadi lalu menghubungi Irwandi Yusuf, yang waktu itu sebagai perwakilan senior di AMM. Ia pun menghubungi Munawar Liza Zaenal.

Orang yang dihubungi tadi, meminta Ismuhadi mengirimkan data seluruh tapol/napol GAM yang belum mendapat amnesty. Seingat ismuhadi, waktu itu ada 114 orang yang tersisa di penjara Pulau Jawa dan Sumatera. Menurut Munawar Liza, dalam daftar usulan amnesty susulan, nama Ismuhadi ada di urutan pertama. Nama Irwan di urutan kedua lalu Ibrahim di urutan ketiga, dan seterusnya, berjumlah 114 orang.

Selamat, Sebentar Lagi Kamu Bebas
Ismuhadi dan kawan-kawan menanti dengan harap-harap cemas. lalu menerima kabar akan dibebaskan. Bahkan Kalapas Cipinang yang dijabat Pak Djoko Mardjo, waktu itu telah mencium Pipi Ismuhadi dan mengucapkan, “Selamat, sebentar lagi kamu akan bebas karena surat-suratnya sudah ada di meja Pak Menteri Hukum yang dijabat Hamid Awaluddin pada saat itu.

Ismuhadi menanti dan menanti namun tak kunjung bebas. Ismuhadi menghubungi Irwandi Yusuf dan Munawar Liza, kini Walikota Sabang, namun belum ada titik terang. Agustus 2006 menjelang peringatan 1 tahun MoU Helsinki, Tgk Zakaria Saman menelpon Ismuhadi dan memintany agar bersedia dipindahkan ke lapas di Wiliyah Aceh. Setelah terjadi perdebatan panjang, Ismuhadi bertanya, “Kenapa ada diskrimnasi .” Tgk Zakaria Saman menjawab pertanyaan itu dengan beberapa hal yang tidak dapat difahami Ismuhadi pahami. Namun akhirnya Ismuhadi setuju untuk pindah ke lapas Aceh, tapi belum juga dapat kepastian hingga memasuki akhir tahun 2006 lalu.

Teman di Kursi Kuasa, Ismuhadi di Balik Terali Baja
Satu persatu kawan di masa berjuang dan menderita bersama dahulunya kini menjadi pejabat penting di Aceh. Beragam suka dan duka di penjara; Ismuhadi mengaku, ada yang masih sangat tinggi kepeduliannya terhadap nasib ia dan temannya, seperti Pak Gubernur dan Pak Wagub juga Pak Walikota dan Pak Wakil Walikota Sabang.

Dilupakan oleh Orang yang Ditolong
Ada juga yang mulai memandang sebelah mata kepada Ismuhadi dan teman-teman di penjara. Bahkan ada seorang Wakil Bupati yang setiap Hari Sabtu ke tempat isteri mudanya di Jakarta, lalu mondar mandir di depan Penjara Cipinang.

“Mereka memang datang ke Jakarta, namun tak pernah mampir pada kami, ataupun sekedar melempar sebungkus nasi dari jalanan dan anggap saja nasi bungkus dilempar untuk anjing2 GAM yang masih di penjara,” jerit Ismuhadi, mengenang balasan temannya yang dulu untuk pulang ke Aceh pernah minta ongkos ke Ismuhadi di bengkel Krueng Baroe Motor. Ada juga seorang lagi yang kini jadi Wakil Bupati yang sering ke Jakarta, bahkan waktu kedatangan Wali Nanggroe ke daerahnya dia lebih memilih pergi ke Jakarta.

Di masa Darurat Militer, orang yang kini Wakil Bupati itu lari ke Jakarta, tinggal di Simpang Garuda, hampir tiap bulan datang ke Penjara Cipinang dan setiap ketemu Ismuhadi pasti dia selalu menangis. Lalu Ismuhadi bertanya;

“Kenapa Teungku menangis?” “Sewa rumah belum bayar dan beras habis,” jawab orang yang kini Wakil Bupati itu. Dengan penuh iba, Ismuhadi merogoh saku celana, mengambil uang lalu memberikan sama Tengku tersebut. Ismuhadi di penjara tapi masih peduli sama nasibnya, namun setelah kini menjadi Wakil Bupati tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya. Kacang lupa kulitnya. Tak bisa balas budi.

Terima Surat Dipulangkan

Tahun 2007 Tanagal 15 Mei 2007, Ismuhadi menerima surat perintah akan dipulangkan ke Aceh. Bunyi suratnya antara lain “Sehubungan dengan perintah Bapak Dirjend Pemasyarakatan, bersama ini kami pindahkan tahanan yang diduga terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka, atas nama T. Ismuhadi Jafar… “ dan seterusnya.

Pukul 10.15, Ismuhadi dibawa meninggalkan Lapas Kelas 1 Cipinang menuju Lapas Kelas 2a Khusus Narkotika Jakarta, yang lokasinya hanya berjarak 1 Km dari lapas Kelas 1 Cipinang. Alasan petugas di sana, tempat transit dan pengumpulan selama menunggu Nurdin dari Nusa Kambangan dan Ibrahim dari Cirebon.

Sesampai Ismuhadi di lapas tersebut, sudah ada Irwan, menunggu sebagai tuan rumah yang juga akan dipulangkan ke Aceh. Lalu datang Nurdin dari Nusa Kambangan. Setelah shalat dzuhur, Ibrahim datang dari Cirebon. Jam 4 sore, Pak Wibowo Joko Harjono selaku Kalapas Klas 2A, memberikan ucapan selamat dan briefing.

“Tiket dan uang jalan sudah diurus pihak dirjend dan kita akan berangkat ke Aceh tangaal 16 Mei, pukul 04.00,” kata Kalapas itu.

Tampak wajah-berseri senang dan gembira. Terbayang akan dipulangkan ke kampung halaman. Hidup sebagaimana layaknya manusia akan Ismuhadi dan tema-teman alami kembali.Namun setelah hari H dan jam J, Ismuhadi dan teman-teman tak juga diberangkatkan ke Aceh.

Batal Dipulangkan
Keesokan harinya, Ismuhadi mendapat penjelasan dari kalapas memberitahukan, pemulangan ke Aceh dibatalkan oleh pemerintah. Bak langit runtuh atas bumi, tubuh Ismuhadi dan teman-teman terasa luruh ke tanah. lemas lunglai mendengar keterangan kalapas.

2 bulan setengah menunggu di Lapas Klas 2A, namun tak ada juga kepastia. Tanggal 31 Juli malam, sekira pukul 23.00, Ismuhadi dijemput dari sel tahanan, lalu dipindah kembali ke Lapas Klas 1 Cipinang, di mana 2 hari sebelumnya, pada 29 Juli, telah terjadi kerusuhan besar yang menewas 2 orang foreman starnya Cipinang.

Dikunjungi petinggi GAM, RI, dan Penengah Luar negeri ke 2
Pertengahan Agustus, Peudana Meuntroe Malek Mahmud dan Meuntroe Uroesan Luwa Nanggroe Zaini Abdullah didampingi Meuntroe Pertahanan Tgk.Zakaria Saman juga Hamid Awaluddin dan Juha Christensen beserta rombongan datang mengunjungi Ismuhadi di penjara Cipinang. Setelah lelah dipingpong ke sana kemari dengan dikunjungi jajaran petinggi GAM dan RI serta CMI tersebut, Ismuhadi seolah mendapatkan tenaga baru untuk terus bersabar mengikuti proses pembebasan yang dijanjikan.

Dikunjungi Petinggi GAM ke 3 Janji Dibebaskan Lagi
Tanggal 20 Agustus 2007, Panglima GAM Muzakkir Manaf datang bersama Jamaika, seorang ahli computer dan propaganda GAM selain Irwandi yusuf. Kunjungan Mualem ( sebutan GAM untuk Muzakkir Manaf) dan Jamaika melengkapi semangat yang dibawa para petinggi GAM. Lalu bulan Oktober dikunjungi oleh anggota dewan yang terhormat dari komisi A DPR Aceh, didampingi oleh Cut Fatma Dahlia (pengganti Cut Nurasikin di mata Ismuhadi) dan Iswadi Jamil dan rombongan dari FKTNA. Mereka pun berjanji akan segera menyurati presiden agar Ismuhadi dan teman-teman dapat dibebaskan.

Kerusuhan LP Cipinang
Malam menunggu pagi lalu pagi menunggu datangnya malam, di penjara terasa lambat sekali jam berputar, apalagi menganggur karena pasca kerusuhan per Agustus 2007, seluruh unit usaha dan warung diambil alih dan dimonopoli oleh Koperasi Pegawai Lapas Cipinang. Praktis Ismuhadi menganggur ditambah dengan beberapa kebijakan yang diubah pasca kerusuhan.

Dulunya setiap kamar diijinkan masak sendiri di kamar masing-masing, tapi kini, tak diperbolehkan lagi. Semua napi harus makan nasi cadong, tetapi bagi napi koruptor yang kaya bisa berlangganan dengan catering atau dikirim dari rumahnya masing-masing. Peraturan di penjara tambah ketat, tak dibolehkan keluar sel tanpa surat jalan. Setiap minggu, handphone dirazia petugas, bila ketemu, ya, resikonya handphone hilang, dan orangnya dimasukkan ke sel tikus. Tiada hari tanpa kecemasan, meski berat, kalender telah berganti bulan.

Dikunjungi Petinggi GAM ke 4, Minta Sabar
Pada tanggal 15 di bulan Desember 2007, kembali Ismuhadi dikunjungi oleh petinggi GAM, antara lain Peudana Meuntroe Malek Mahmud, Meuntroe Uroesan Luwa Nanggroe, dr. Zaini Abdullah, Meuntroe Uroesan Pheng, Almarhum Tgk.Muhammad Usman Lampoh Awe, Panglima GAM Muzakkir Manaf, Panglima Wilayah Pidie Abu Razak, Panglima Wilayah Batee Ieliek Tgk.Darwis Djeunieb, Tgk.Yahya Muad, Ibrahim KBS, TM.Nazar, Tgk.Ramli, Tgk.Irsyadi Panton Labu, Hamid Awaluddin, dan rombongan.

Tadi ismuhadi berfikir, kali ini akan pulang ke Aceh, karena begitu lengkap yang datang berkunjung, namun Ismuhadi harus kembali bersabar karena kedatangan para petinggi tersebut bukan untuk menjemput Ismuhadi, namun masih datang dan meminta Ismuhadi untuk bersabar lagi. “Insya Allah, uloen tuan saba jalani hudep loen tuan lam peunjara, bah pih kana MoU Helsinki,” jawab Ismuhadi dalam Bahasa Aceh yang sopan.

Setelah dikunjungi para petinggi itu lalu berpisah, Ismuhadi kembali dengan langkah gontai menuju kamar selnya yang pengab dan sempit.

Semua Tak Berkutik untuk Menolong Ismuhadi
Ismuhadi menjalani kehidupan di penjara dengan tabah dan sabar entah sampai kapan. Semua lini usaha pembebasan telah ia tempuh, namun belum membuahkan hasil, yang diyakininya semua adalah kehendak Sang Pencipta, pasti ada rahasia-Nya di balik semua kejadian, dan hanya orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian, yang akan mengetahui rahasia Allah SWT dan selalu bersyukur atas segala yang diterima. Ismuhadi yakin, yang terpenting adalah tak pernah berputus asa akan rahmat Allah, selalu berusaha, karena ikhtiar itu wajib hukumnya.

Kabar Hasan Tiro Pulang
Kini, setelah 8 tahun dipenjara, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman, Ismuhadi mendengar bahwa Wali Nanggroe Tgk. Hasan di Tiro telah pulang mengunjungi Aceh, dengan seksama Ismuhadi mengikuti setiap pemberitaan di media massa, matanya berkaca-kaca menyaksikan tokoh idolanya turun dari tangga pesawat yang membawanya dari malaysia dan disambut oleh jutaan rakyat Aceh dengan wajah gembira.

Ismuhadi bergumam dalam hati, andai saja dia telah bebas pasti dia akan menjabat tangan wali yang dikaguminya sejak duduk di bangku SMP. Dia berdoa ‘semoga kedatangan Wali Nanggroe akan membawa kedamaian di bumi Aceh, meski dia tahu persis masih ada pihak-pihak yang tak ingin Aceh damai, maklum saja, kalau Belanda menyebut Aceh dengan sebutan “negeri sejuta perang”. Begitulah asa Ismuhadi dan kawan-kawannya sesama tapol/napol Aceh yang belum mendapatkan amnesty.

Ismuhadi tak sendiri di penjara, masih ada Irwan Tiro, masih ada Ibrahim Sawang yang dihukum sama dengan Ismuhadi, yaitu dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup. mereka semua memiliki keinginan dan harapan yang sama, ingin bebas.

Ingin Menjabat Tangan Hasan Tiro Sebelum Ajal
Tidak ada penyesalan di benak Ismuhadi atas semua yang menimpanya, yang ada hanya harapan ‘semoga Wali Nanggroe bersedia membebaskan Ismuhadi dan teman-teman, sebagaimana ribuan kawan-kawan seperjuangan lainnya, yang telah terlebih dahulu menghirup udara bebas, sesuai dengan isi MoU Helsinki. Ismuhadi bercita-cita, sebelum ajal datang menjemputnya, dia ingin berjabat tangan dengan Wali Nanggroe, Tgk.Hasan Muhammad di Tiro.

Airmata Tumpah Saat Dibesuk Si Buah Hati
Bagi Ismuhadi, hal terberat berada di penjara adalah ketika Tadashi Mulana dan Cahya Keumala datang membesuk. Setiap kedua buah hati itu diantar ke pintu portir karena jam bezoek telah habis, mereka selalu bertanya; “Ayah kapan pulang?” Tak mampu menjawab perntanyaan mereka, Ismuhadi hanya terdiam dengan kerongkongan terasa dicekik, nggak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Biasanya anak-anak melanjutkan; “kalo ayah udah pulang ke rumah, kan bisa anter jemput kami sekolah yah,” kata anak-anaknya dengan polos, tak mengerti ayahnya dihukum ‘seumur hidup harus berada di penjara. Untuk menghibur anak-anak, Ismuhadi selalu menutup dengan kalimat; Insya Allah ayah akan pulang, do’akan ayah, ya nak !” Serentak anak-anak mengangguk tanda setuju lalu pelan-pelan mereka melepaskan pelukan dan siap untuk kembali ke rumah.

Banyak juga di antara teman-teman yang dulu sama-sama berjuang namun kini telah lupa diri bahkan kalaupun datang ke Penjara Cipinang, hanya untuk menambah penderitaan Ismuhadi dengan kalimat-kalimat yang tak menghibur, contohnya; “Tengku tidak bisa diberikan amnesty karena Tengku tak mau mengaku GAM, dan Tengku dianggap terorrist.” Ismuhadi hanya mengurut dada mendengar tudinganitu. Ia pasrah apapun kata mereka, karena apa yang telah Ismuhadi sumbangkan untuk bangsanya yang tertindas bukan untuk orang per orang atau pribadi, tetapi Lillahi Ta’ala, demi bangsa dan rakyat serambi mekkah.

Lalu untuk menghibur diri, Ismuhadi menjawab pertanyaan penjenguk sinis itu, “Untuk apa mengaku-ngaku GAM, jika hanya untuk menjual GAM demi kepentingan pribadi...”

Begitu pula soal tudingan terorrist, orang-orang yang paham hukum pasti tau Ismuhadi dan teman-temannya ditangkap lalu dipenjara tahun 2000. Sementara undang-ungdang anti terorrist lahir tahun 2002, setelah tragedi kemanusiaan bom bali.

Ismuhadi berharap semoga orang-orang seperti tadi sadar dan belajar hokum. Ia mengharap sangat, semoga Pemerintah RI dan GAM benar-benar memiliki moral untuk mengimplementasikan pasal demi pasal dalam MoU Helsinki, termasuk butir tentang amnesty bagi sipapun yang terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka, baik lansung maupun tak lansung. Karena sangat jelas, di dalam Dakwaan dan Tuntutan agar Hakim Menjatuhkan Pidana Hukuman mati pada Ismuhadi, yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Endang Rachwan,SH, di PN Jakarta Selatan, menyebutkan dengan tegas kalimat, “Teuku Ismuhadi adalah Panglima GAM untuk Wilayah Jakarta Bogor Tangerang Bekasi, yang bertugas menghubungkan anggota GAM di dalam negeri dengan GAM yang berada di luar negeri.

Akankah Ismuhadi mendapatkan amnesty atau dijadikan tumbal oleh penguasa? Semuanya berpulang pada penguasa pengurus pemerintahan, karena menurut Ismuhadi, “Seorang penguasa yang sedang memegang kekuasaan dapat melakukan apa saja, termasuk menjadikan siapa saja menjadi siapa saja.

Semoga tak ada lagi darah yang tumpah di bumi Serambi Mekkah, semoga tak akan ada lagi putera puteri terbaik bangsa yang dikorbankan demi kepentingan kekuasaan. Semoga tak ada lagi Ismuhadi, Irwan Tiro, Ibrahim Sawang lainnya yang mengalami nasib seperti mereka. Cukuplah mereka sebagai korban terakhir dari sebuah tirani. Ismuhadi merindukan Aceh, rindu ingin berenang dan mencari Ikan Keureulieng kembali di Krueng Keumala U Gadeng dan Krueng Tiro. Welcome Home The Highness, I’m so proud of you! [Editor Thayeb loh Angen]
READ MORE >> SANG ORATOR ULUNG ATJEH