Minggu, 04 Maret 2012

DALIL KEWAJIBAN BERTAQLID KETIKA TIDAK MAMPU BERIJTIHAD

Posted by Rais 10.45, under | No comments



DALIL KEWAJIBAN BERTAQLID KETIKA TIDAK MAMPU BERIJTIHAD

Berkut ini adalah bebrapa dalil diwajibkan bertaqlid bagi orang-orang yang tidak mampu berijtihad:

1.Firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat-7:

Artinya: “Maka bertanya kepada Ahli Ilmu jika kalian tidak mengerti”.

Para ulama telah sepakat bahwa ayat ini memerintahkan kepada orang-orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya agar mengikuti orang-orang yang mengetahui hal tersebut. Para ulama ushul fiqh menjadikan ayat ini sebagai dasar utama bahwa orang yang tidak mengerti (awam) haruslah bertaqlid kepada orang ‘alim yang mujtahid.

Sesuai dengan ayai itu adalah firman Allah dalam surat At-Taubat ayat 122:

Artinya: “ tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapakah tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga diri.”

Dalam kitab Tafsiirul Jami’ Liahkamil Qur’an juz VIII/293-294 diterangkan bahwa allah SWT. melarang manusia pergi berperang dan berjihad secara keseluruhan tetapi memerintahkan kepada sebagian mereka untuk meluangkan waktunya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, sehingga ketika saudara-saudara mereka yang berperang itu telah kembali , mereka aka n menemukan orang-orang yang dapat memberikan fatwa kepada mereka tentang perkara halal-haram dan dapat pula memberi penjelasan kepada mereka tentang hukum-hukum Allah SWT.

2.Ijma’ ulama.
Bahwa para sahabat Nabi SAW. berbeda-beda dalam tingkat keilmuan dan tidak semuanya mampu mampu untuk memberi fatwa. Ibnu Khaldun berkata: “ilmu agama tidaklah di ambil dari mereka semua”.

Memang para sahabat itu terbagi dua, ada yang termasuk mufti yang mampu melakukan ijtihad dan mereka ini termasuk minoritas dibandingkan seluruh sahabat. Ada juga diantara mereka yang termasuk mustafti yaitu peminta fatwa yang bertaqlid dan mereka inilah yang mayoritas. Dan tidak ada bukti bahwa para sahabat yang menjadi mufti – ketika menyebutkan hukum satu perkara kepada mustafti – pasti menjelaskan dalil-dalil hukum itu. Tidak ada bukti sama sekali untuk hal itu.

Rasulullah SAW.pernah mengutus para sahabat yang ahli dalam masalah agama kesatu daerah yang penduduknya tidak mengetahui Islam kecuali perkara yang bersifat aqidah beserta rukun-rukunya. Maka para penduduk daerah itu mengikuti setiap fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat tersebut, baik itu yang berkaitan dengan amal ibadah, mu’amalah maupun perkara-perkara halal dan haram. Terkadang sahabat itu menghadapi suatu permasalah yang tidak ditemukan dalilnya, baik dari Al-Qur’an maupun Hadist, maka terhadap perkara ini mereka melakukan ijtihad kemudian memberi fatwa berdasarkan hasil ijtihadnya dan penduduk daerah itupun mengikuti ijtihad tersebut.

AL-Ghazali dalam kitabnya Al-Mushtashfa juz II/385 pada bab taqlid dan istifta’ ketika beliau berdalil bahwa orang awam itu tidak memiliki jalan lain kecuali bertaqlid, berkata sebagai berikut: “kami berdalil terhadap yang demikian itu dengan dua dalil. Salah satunya adalah ijma’ sahabat dimana mereka selalu memberi fatwa kepada orang-orang awam dan tidak memerintahkan mereka untuk mencapai derajat ijtihad. Ijma’ tersebut telah diketahui secara mutawatir baik dari ulama mereka maupun rakyat biasa”.

Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam juz III/171 berkata: “Ijma’ dimaksud adalah keadaan orang-orang awam di masa sahabat dan tabi’in -- sebelum munculnya orang-orang menyimpang – yang selalu meminta fatwa kepada para sahabat yang termasuk mujtahid dan mengikuti fatwa mereka itu dalam hal-hal hukum agama. Para ulama dikalangan sahabat selalu menjawab pertanyaan mereka dengan segera tanpa menyebutkan dalil. Tidak ada yang mengingkari kebiasaan orang-orang awam tersebut. Maka terjadilah Ijma’ dalam hal bolehnya orang awam mengikuti orang mujtahid secara mutlak.

Dizaman sahabat, mereka yang tampil memberi fatwa hanyalah sebagian kecil yang memang telah dikenal keahliannya dalam bidang fiqh, riwayat dan istinbath. Yang paling terkenal diantara mereka adalah Khulafa’ur Rasyidin yang empat, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa Al-asy’ari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit. Sedangkan para sahabat nabi yang bertaqlid kepada mazhab dan fatwa, mereka ini lebih banyak.

Dizaman tabi’in daerah ijtihad bertambah luas dan kaum muslimin pada masa itu menggunakan cara yang sama seperti cara yang dipakai oleh para sahabat Rasulullah SAW. hanya saja ijtidad dimasa tabi’in dapat digolongkan kepada dua mazhab uatam yaitu: mazhab Ahlul Ra’yi dan mazhab Ahlul Al-Hadist. Diantara tokoh ahlul ra’yi di Irak adalah Alqamah bin Qais an-Nakha’i, Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani, Ibrahim bin Zaid an-Nakh’I dan Sa’id bin Jubair. Semua orang-orang awam di Irak dan sekitarnya selalu bertaqlid kepada mazhab ini dengan tanpa ada yang mengingkari. Adapun tokoh-tokoh Ahlul Hadist di Hijaz adalah Sa’id bin Al Musayyab al-Makkhzumi, ‘Urwah bin Jubair, Salim bin Abdullah bin ‘Umar, Sulaiman bin Yasar, dan Nafi’ Maula Abdullah bin ‘Umar. Semua penduduk Hijaz dan sekitarnya senantiasa bertaqlid kepada mazhab ini dengan tanpa ada seorangpun yang mengingkari.
Antara tokoh-tokoh kedua mazhab ini sering juga terjadi diskusi dan perdebatan, akan tetapi orang-orang awam dan kalangan dan kalangan pelajar tidaklah ikut campur dalam hal tersebut, karena karena urusan mereka hanyalah bertaqlid kepada siapa saja diantara mereka yang dikehendaki dengan tanpa seorang pun yang melakukan pengingkaran terhadap mereka. Dan perdebatan yang terjadi diantara para mujtahidin tidaklah menjadi beban dan tanggung jawab orang-orang awam

3.Dalil logika yang jelas
Syaikh Abdullah Darras berkata: “Dalil logika untuk masalah ini adalah bahwa orang yang tidak punnya kemapuan dalam berijtihad apabila terjadi padanya satu masalah fiqh, maka ada dua kemungkinan cara dia bersikap:
Pertama, Dia tidak melakukan ibadah sama sekali, dan ini telah menyalahi ijma’.
Kedua, Dia melakukan ibadah. Dan ibadah yang dilakukannya itu adakala dengan meneliti dalil yang menetapkan hukum atau dengan jalan taqlid. Untuk yang pertama jelas tidak mungkin, karena dengan melakukan penelitian itu berarti dia harus meneliti dalil-dalil semua masalah sehingga harus meninggalkan kegiatan sehari-hari yakni meninggalkan semua pekerjaan yang mesti dia lakukan dan itu jelas akan menimbulkan kesulitan bagi dirinya.

Oleh karena itu tidak ada kemungkinan lain selain taqlid. Dan itulah yang menjadi kewajibannya apabila bertemu dengan masalah yang memerlukan pemecahan hukum.”
Tatkala par ulama memperhatikan kesempurnaan dalil-dalil, bik itu dari Al-Qur’an, Hadist maupun dalil-dalil aqli (logika) diman orang-orang awam dan orang-orang ‘alim yang belum sampai kepada derajat istinbath tidak ada jalan lain bagi mereka kecu.ali bertaqlid kepada seorang mujtahid yang mampu memahami dalil, maka berkatalah para ulama itu: “sesungguhnya fatwa seorang mujtahid untuk orang-orang awam adalah seperti halnya dalil-dalil Al-Qur’an dan al-Sunnah untuk orang mujtahid, karena al-Qur’an sebagaimana dia merngharuskan seorang yang mujtahid untuk berpegang teguh untuk dengan dalil-dalil dan bukti yang terdapat diddalamnya, begitu juga Al-qur;an itu mengharuskan orang-orang awam untuk berpegang teguh dengan fatwa seorang yang mujtahid”.

Dalam menjelaskan hal ini, Al-syatibi berkata:
“Fatwa-fatwa para mujtahid bagi orang-orang awam adalah seperti dalil-dalil syar’i bagi para mujtahid. Alasannya adalah karena bagi orang-orang yang taqlid , ada atau tidak nya dalil adalah sama saja karena mereka tidak mampu mengambil pengertian darinya. Maka masalah meneliti dalil dan melakukan istinbath bukanlah urusan mereka dan mereka memang tidak diperkenankan melakukan yang demikian itu. Dalam al-Qur’an Allah SWT.berfirman:

Artinya: “Maka bertanya kepada Ahli Ilmu jika kalian tidak mengerti”.

Orang yang taqlid bukanlah orang yang alim. Oleh karena itu , tidaklah sah baginya kecuali betanya kepada ahli ilmu. Dan kepada merekalah kembali urusan-urusan orang awam dalam masalah hukum secara mutlak. Denga demikian, maka kedudukan ahli ilmu bagi orang-orang awam begitu pula ucapan-ucapannya adalah seperti kedudukan syara’.

Semua dalil yang dikemukan diatas menekankan kewajiban bertaqlid bagi orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan istinbath dan ijtihad.
Jika anda telah mengetahui dengan jelas dan pasti berdasarkan penukilan yang shahih, ijma’ dan qath’i dan logika yang baik tentang disyari’atkan bahkan diwajibkannya taqlid bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan melakukan istinbath dan ijtihad, maka tidaklah ada bedanya apakah mujtahid yang ditaqlidi itu seorang sahabat atau salah seorang dari imam-imam mazhab empat selama mereka adalah mujtahiddan yang taqlid adalah orang awam yang tidak mengetahui cara mencari dalil dan istinbath.
Lalu apa maksud pendapat yang mengatakan bahwa timbulnya ke empat mazhab itu adalah bid’ah dan mengikut ke empat mazhab itu juga merupakan perbuatan bid’ah......?? mengapa keberadaan mazhab yang empat di anggap bid’ah, sedangkan mazhab Ahlul hadist dan mazhab ahlul ra’yu tidak dianggap bid’ah...?? mengapa orang yang taqlid kepada Imam Hanafi, Imam syafi’e di anggap bid’ah, sementara yang taqlid kepada Imam Nakha’i di Irak dan Sa’ad bin al-Musayyab di hijaz tidak dianggap demikian..???? begitu juga mengapa mengikuti mazhab yang empat di anggap bid’ah sedangkan mengikuti mazhab Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan Aisyah Ummul Mukminin tidak di anggap bid’ah...?????

Bersambung !!!

0 komentar:

Poskan Komentar

Tags

Blog Archive

Blog Archive